KERJASAMA RTMC DIREKTORAT LALU LINTAS
POLDA JAWA TIMUR, PEMKOT SURABAYA & MORATELINDO

Senin, 21 Februari 2011, Kapolri, Jenderal Polisi Timur Pradopo yang diwakili oleh Kakorlantas Irjen Polisi Joko Susilo, meresmikan peluncuran program Regional Traffic Management Centre (RTMC), menyambung acara soft launching pada tiga minggu sebelumnya. Acara tersebut dibuka oleh Dirlantas Polda Jawa Timur, Kombespol Drs. Sam Budigusdian, yang memaparkan tujuan dari program RTMC itu dan ucapan khusus serta apresiasi kepada Moratelindo (CEPATnet) atas dukungan infrastruktur fiber optic di Surabaya. RTMC sendiri merupakan program terpadu Ditlantas Polda dengan pemerintah kota setempat untuk memonitor lalu lintas dari satu pusat pengendali melalui kamera CCTV yang tersebar di kawasan Jawa Timur. Acara kemudian dilanjutkan dengan pidato dari Kapolda Jawa Timur, Irjen Polisi Badroeddin Haiti, yang menyampaikan penghargaan dan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada Moratelindo (CEPATnet) atas terwujudnya kerjasama RTMC Polda Jawa TImur.
Peluncuran program RTMC ini dihadiri Kasi STNK Subdit Min Regident Ditlantas Polda Jawa Timur Kompol Budi Mulyanto, perwakilan Gubernur Jawa Timur, Walikota Surabaya Ibu Tri Rismaharini, beserta jajarannya, yaitu Kepala Dinas Informasi dan Telekomunikasi (Diskominfo) Chalid Buchari, jajaran Dirlantas Polri seluruh Indonesia, jajaran Kepolisian Polda Jawa Timur, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Gatot Nurmantyo serta jajaran universitas negeri di Jawa Timur. Sebagai perwakilan dari Moratelindo, General Manager CEPATnet, Ade Tjendra, turut menghadiri acara peluncuran RTMC milik Ditlantas Polda Jawa Timur.
Dalam
kurun waktu 6 bulan, telah terpasang 144 CCTV dan 68 titik di
antaranya terletak di area Surabaya. Masih ada 75 titik lagi yang
sudah ditargetkan untuk dipasang kamera pemantau bak mata elang.
Kamera mobile pada 8 unit mobil patwal ikut dipasangi CCTV. Begitu
juga kendaraan water cannon dan helikopter yang tidak luput
dilengkapi juga dengan masing-masing 1 unit kamera. “Kami lega
karena akhirnya kami mempunyai visual di banyak titik di Jawa Timur,”
tutur Dirlantas Polda Jatim itu di sela-sela acara peluncuran
tersebut.
Untuk mewadahi semua sarana yang telah disebutkan di atas, Ditlantas Polda sudah menyiapkan ruangan seluas 100mē di lantai 2 untuk disulap menjadi ruang pusat pengendali. Semua yang terjadi di lapangan dapat terpantau dengan mudah melalui display-display canggih dan mudah dioperasikan. Infrastruktur aliran data dipercayakan kepada Moratelindo (CEPATnet) dengan kapasitas sebesar 214 Mbps yang juga sudah digunakan untuk keperluan pemerintah kota Surabaya. Dengan keandalan jaringan kabel serat optik yang dimiliki oleh Moratelindo (CEPATnet), kestabilan aliran keluar-masuk data sangatlah terjamin demi kelancaran dan keakuratan informasi yang diperlukan petugas, baik di lapangan maupun di pusat pengendali.
Program RTMC tak hanya berfungsi seperti mata elang. “Ada banyak hal yang bisa kami lakukan ketika kami mendapat visual,” ucap Sam yang menjabat Dirlantas Polda Jatim sejak Januari 2010 tersebut. Fungsi pertama adalah untuk penanganan kecelakaan dan kemacetan yang terjadi. Kemudian untuk membantu mengungkap kasus kriminal, terutama kasus tabrak lari. Tak tanggung-tanggung, dalam 20 hari setelah soft launching, RTMC telah berhasil membantu pengungkapan tiga kasus jambret dan lima tabrak lari di seluruh area Jawa Timur. Dan yang tak kalah penting adalah untuk memonitor permasalahan sosial seperti penertiban PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial).
Selain
itu, beliau juga menyinggung beberapa koordinasi penting dengan
satuan fungsi lainnya. Pertama, dengan direktorat Samapta
Bhayangkara. Tujuannya adalah untuk mengukur tindakan bila ada
huru-hara yang mengarah ke tindak anarkistis. Kedua, dengan
direktorat reserse kriminal. Yang utama adalah identifikasi dan
pemanfaatan call center. Bila ada tindakan pidana yang terpantau,
bisa langsung dikejar dan ditangkap pelakunya. Yang ketiga adalah
dengan biro operasional. Maksudnya adalah untuk memudahkan
pemantauan dan pengendalian kegiatan-kegiatan operasi kepolisian
yang dilakukan Polda Jatim maupun jajaran kewilayahannya. Terakhir,
dengan direktorat polair
(Ditpolair).
Seyogyanya, patroli kapal dinas Polri juga dapat serta-merta
mencegah tindakan kriminal.
RTMC sudah diterapkan secara terbuka dan transparan. Khalayak dapat mengaksesnya melalui Facebook dan Twitter bila mereka ingin ke luar kota. Pengguna jalan dapat berkonsultasi mengenai arah jalan melalui akun-akun tersebut. “Mungkin ada yang tanya apakah lewat Situbondo atau Jember bila mau ke Banyuwangi. Silakan, bisa telepon, SMS, via Facebook atau Twitter. Staff kami dengan senang hati akan melayaninya,” tambah Sam.
Dirlantas Polda Jawa Timur menganggap ini masih merupakan langkah awal saja dan masih jauh dari penyempurnaan. Bukan berarti setelah ada RTMC tak ada macet dan tak ada kecelakaan. Namun, beliau optimis ada langkah-langkah maju yang akan dibuat meskipun masih ada kekurangan di sana-sini. Tambahan dia sebagai penutup adalah bahwa ini merupakan bukti dari sebuah kerja sama lintas instansi yang positif. “RTMC ini tak akan ada bila tak didukung pemerintah setempat yang juga punya visi yang sama.” tuturnya. Tidak sampai di situ saja, pada saat live demo di ruang pusat kendali RTMC, kembali Sam mengucapkan apresiasinya atas kerjasama yang membawa manfaat bagi masyarakat Jawa Timur antara pemerintah kota Surabaya dan Moratelindo (CEPATnet) serta mereferensikan kepada seluruh jajaran Dirlantas Polri dan pemerintah kota lain untuk dapat menjadikan RTMC Jawa Timur sebagai benchmark dan percontohan di daerah lain di seluruh Indonesia.
(rml/CBS)
